Read kembar keempat by Sekar Ayu Asmara Online

kembar-keempat

Dari gempita Manhattan, New York sampai romantika Paris, novel KEMBAR KEEMPAT melintas empat benua. Sebuah cerita drama kemanusiaan penuh cinta, airmata dan pengorbanan. Mengisahkan perjuangan manusia meraih kebahagiaan. Dan ketidakberdayaan manusia melawan kebenaran takdir.Axena gadis empatbelas tahun asal panti asuhan Jogya. Nasib mengubah hidup, keberuntungan membawanyaDari gempita Manhattan, New York sampai romantika Paris, novel KEMBAR KEEMPAT melintas empat benua. Sebuah cerita drama kemanusiaan penuh cinta, airmata dan pengorbanan. Mengisahkan perjuangan manusia meraih kebahagiaan. Dan ketidakberdayaan manusia melawan kebenaran takdir.Axena gadis empatbelas tahun asal panti asuhan Jogya. Nasib mengubah hidup, keberuntungan membawanya ke Manhattan, New York. Wajahnya menjadi ikon kecantikan berkat kontrak jutaan dollar Diva Cosmetics. Panggung busana internasional melambungkan namanya sebagai supermodel dunia. Rencana pernikahannya dengan sutradara film Yahudi seakan melengkapi kebahagiaannya.Havana Sitompoel perempuan berkepala botak, berayah Tapanuli beribu Turki. Lulusan sekolah khusus anak-anak cerdas dan berbakat di London, Inggris. Bekerja-lepas pada kepolisian Istanbul, khusus memotret korban bunuh diri. Tingkat intelegensia tinggi seakan tak berdaya, ketika seorang pelukis membelenggu dirinya dalam hubungan cinta terlarang.Bhara, Bhadra dan Bhajra Pusponegoro saudara kembar-tiga. Serupa dalam tampan, berbeda dalam bakat. Bhara penyanyi, mengikuti audisi drama musikal berjudul The Prince of Bali di pentas Broadway. Bhadra pencipta lagu, karyanya mewakili Indonesia di ajang kompetisi tingkat internasional. Bhajra sutradara film dokumenter, menjelajah nusantara mengabadikan warisan budaya. Namun kiprah mereka meraih masadepan, dibayangi rahasia gelap masalalu....

Title : kembar keempat
Author :
Rating :
ISBN : 2979329
Format Type : Paperback
Number of Pages : 225 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

kembar keempat Reviews

  • Vanda Kemala
    2019-02-16 07:02

    Dari segi cerita, bagus. Tapi sebagai anak kembar juga, cerita ini rasanya terlalu complicated.Di sisi lain, setiap tokohnya digambarkan terlalu sempurna. Nasibnya, apa yang mereka capai, semuanya. Kayak sempurna bener gitu hidupnya. Lurus aja gitu. Apa yang mereka impikan, pasti tercapai.Ending cerita agak ngetwist, walaupun nggak terlalu menghentak kayak Pintu Terlarang.

  • Ihwan
    2019-02-06 13:10

    Sekar Ayu Asmara merupakan penulis novel yang karya-karyanya banyak diangkat ke layar lebar, mulai dari Belahan Jiwa, Pesan Dari Surga dan yang paling gres adalah Pintu Terlarang. Dia pun juga pernah menyutradai sebuah film berjudul Biola Tak Berdawai. Tapi ironisnya, nama Sekar Ayu Asmara sendiri sepertinya kurang begitu dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Bisa dimaklumi karena dia terjun di genre drama serius yang cenderung dark dan abstrak, tahu sendirilah genre tersebut termasuk sepi peminat. Selain isi ceritanya yang membutuhkan sedikit kerja keras otak kita dalam mencernanya, bahasa yang digunakan juga biasanya ada unsur-unsur sastra yang membuat kening berkerut. Resensique kali ini akan meresensi salah satu novelnya yang berjudul Kembar Keempat. Novel ini bercerita tentang tiga saudara kembar Bhara, Bhadra dan Bhajra Pusponegoro. Mereka adalah kembar triplet tampan dan berbakat. Bhara yang seorang penyanyi sedang mengikuti audisi drama musikal berjudul The Prince of Bali. Bhadra pencipta lagu yang karyanya mewakili Indonesia dalam ajang kompetisi musik internasional. Lalu yang terakhir Bhajra adalah seorang sutradara film dokumenter.Di belahan bumi yang lain, tepatnya di Manhattan, New York, tersebutlah seorang supermodel dunia dari Indonesia bernama Axena. Kehidupannya nyaris sempurna karena semua sudah dia dapatkan, karier yang cemerlang, kehidupan yang mewah dan glamour dan sang kekasih hati Merav, seorang sutradara film keturunan Yahudi.Melangkah ke Turki, ada seorang fotografer wanita bernama Havana Sitompoel, yang bekerja pada kepolisian Istanbul, dia diberi tugas memotret korban-korban bunuh diri. Selain penampilannya yang eksentrik dengan kepala plontosnya, kehidupan asmaranya juga penuh dilema karena dia terlibat cinta terlarang dengan Yilmaz Bozdemir, seorang pelukis yang sudah beristri.Pahitnya kehidupan yang penuh tragedi akhirnya mempertemukan kelima tokoh tersebut. Namun sayangnya di saat mereka akan menjemput kebahagiaan cinta mereka, sebuah kebenaran yang telah terkubur sekian lamanya akhirnya terkuak. Sanggupkah mereka menghadapinya dan memperjuangkan cinta mereka? Lalu siapakah yang dimaksud Kembar Keempat itu?Membaca novel ini secara tidak langsung ikut memperkaya kosakata kita karena di dalamnya banyak sekali bertaburan kata-kata yang jarang atau bahkan hampir tidak pernah dipergunakan dalam novel-novel lainnya. Misalnya saja: melungkup, menggelimuni, menggeligit, bergelitar, mengerabik dan masih banyak lagi yang lainnya. Pemakaian kosakata yang jarang dipakai ini mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kelebihannya sudah disebutkan di awal paragraf, sedangkan kelemahannya adalah bagi pembaca yang tidak mengetahui artinya akan mengurangi kenyamanan dalam menikmati kisah yang disajikan.Namun sayangnya gaya penulisan cerita Kembar Keempat boleh dibilang agak kaku dan statis banget. Narasi yang dipergunakan sang penulis terasa begitu berjarak dengan pembacanya sehingga pembaca agak kesulitan ikut masuk dan tenggelam ke dalam cerita. Untungnya sang penulis masih berbaik hati dengan memberikan gaya bicara yang sedikit ngepop dan gaul pada para tokohnya. Walaupun kalau menurut saya pribadi terkesan dipaksakan dan kurang ‘smooth’ dalam penggabungannya.Seperti halnya Joker, Kembar Keempat di awal ceritanya membawa pembaca pada peristiwa di masa depan yang menjadi bingkai dari perjalanan hidup dan cinta kelima tokohnya. Kemudian ceritapun bergulir ke belakang, bergantian antara kisah Bhara, Bhadra, Bhajra, Axena dan Havana. Ledakan yang diberikan dalam novel ini sebenarnya cukup keras hanya saja eksekusinya kurang begitu mantap sehingga kurang bisa menimbulkan kesan yang dalam di benak pembaca.Jika pembaca cukup jeli dan peka, sebetulnya di setiap pergantian kisah para tokohnya ada semacam petunjuk yang menjelaskan hubungan sebenarnya dari para tokoh tersebut. Dan dari situ kita bisa menebak ending novel ini.Fave ThingsCharacter: Aku dari dulu pengin banget punya saudara kembar, pikirku menakjubkan banget melihat orang yang secara fisik begitu mirip dengan diri kita. Bahkan karena begitu terobsesinya, kelak aku pengin punya anak kembar. Tapi dalam novel ini, aku sama sekali nggak memfavoritkan ketiga cowok kembar di atas karena interaksi di antara mereka terlalu adem ayem dan kompak.Mungkin yang bisa difavoritkan tuh Axena, sebagai model dia dijuluki chameleon atau bunglon, wajahnya bisa berubah-ubah sesuai keadaan sehingga tidak ada satu foto wajah Axena yang sama. Kalau seumpama novel ini difilmkan, menurutku yang paling pas memerankan tokoh ini tuh Karenina soalnya dia juga mempunyai kelebihan yang sama dengan Axena.Scene: Duh, agak susah mencari adegan yang bisa difavoritkan dalam novel ini. Bukan karena aura ceritanya yang cenderung mellow dalam novel ini, tapi karena penulisan adegan-adegan pentingnya yang kurang mantap dan berkesan gitu.Quote: Ini juga agak sulit. Ehm apa yaa….ini aja deh: Anak yang terlahir kembar, tak boleh terpisahkan oleh apapun, oleh siapapun.

  • Rizky Akita
    2019-02-05 08:05

    Klarifikasi : Saya bermaksud memberikan 2,5 bintang untuk buku ini, namun karena bintangnya tidak untuk diberikan dalam satuan desimal maka sangat terpaksa saya berikan dua bintang.Anak kembar merupakan sebuah kejadian yang istimewa, dan sebagaimana hal istimewa lainnya, fenomena anak kembar ini juga tidak lepas dari banyaknya mitos dan kepercayaan yang berputar di sekitarnya. Masing-masing kebudayaan memiliki kepercayaan tersendiri perihal anak kembar ini, tapi yang paling sering kita dengar adalah adanya keterkaitan luar biasa antara satu anak kembar dengan kembar lainnya. Tema inilah yang coba diangkat oleh Sekar Ayu Asmara dalam novel keduanya setelah Pintu Terlarang, Kembar Keempat.Diawali dengan penggambaran kunjungan seorang wanita muda ke Patung Liberty, Sekar Ayu Asmara mengisyaratkan sebuah konflik pelik yang tidak bisa segera kita cecap. Kita akan bertanya-tanya, siapa wanita muda ini? Apa peranannya dalam kisah ini? Mengapa ia, wanita muda yang sedang mengandung, berniat mengakhiri hidupnya? Sampai disini kita disuguhi hidangan pembuka rasa penasaran yang menunggu titik kulminasi agar bisa dihidangkan dengan kejutan rasa yang (diharapkan) tak terduga.Cerita kemudian beralih dan secara konsisten beralih-alih perspektif dari saudara kembar tiga Bhara, Bhadra, Bhajra serta Savitri si ibu, ke Axena dan Havana di belahan bumi lain. Masing-masing karakter bercerita dan berkeluh kesah sambil menggiring pembaca masuk ke dalam dunia mereka yang dihantui oleh rasa kehilangan, harapan serta kekecewaannya masing-masing. Sampai setengah perjalanan menuju akhir buku ini kita masih diizinkan (atau dipaksa) SAA untuk bertanya-tanya: korelasi apa yang dimiliki sejumlah tokoh tersebut yang keberadaannya saja dipisahkan oleh samudera?Disinilah saya akui kehebatan Sekar Ayu Asmara dalam membangun konflik yang mengarahkan kita pada satu kesimpulan mengejutkan. Ia dengan begitu tenang dan rapi memberikan sedikit demi sedikit detail dan petunjuk yang tersebar di setiap halaman dari buku ini. Begitu rapinya sampai-sampai saya hampir kehabisan tenaga di tengah-tengah karena rasa penasaran yang hampir mencapai titik nadir sementara saya belum juga menemukan ruang untuk menyusun satu demi satu kepingan puzzle itu. Satu hal yang juga menarik adalah kemampuan SAA dalam menjahit hubungan antara tokoh-tokoh di dalam buku ini, terutama di paruh awal cerita. Bahkan dari awal saja kita sudah bisa merasakan adanya ikatan kuat yang nyaris kasat mata di antara mereka. Bagi kalian yang menyukai Pintu Terlarang, maka buku ini akan sedikit mengobati kerinduan anda pada novel bergenre thriller tersebut. Nuansa gelap dan misterius pada Pintu Terlarang masih tetap bisa kita endus dan rasakan di Kembar Keempat, all thanks to Sekar Ayu Asmara’s unique and distinct diction. Meski begitu, saya merasa novel ini terkesan setengah hati melakonkan babak konklusinya. Plot yang sedari awal dengan begitu “dingin” dibangun diselesaikan dengan sekali tebas, tanpa tedeng aling-aling sehingga yang tersisa di otak saya adalah segumpal “EH” raksasa. Sebagian “EH” itu berasal dari minimnya kontemplasi yang terjadi di dalam otak si kembar Bhara, Bhadra dan Bhajra setelah mengetahui kenyataan (terutama jika dikaitkan dengan kondisi mereka saat itu) yang menurut saya seharusnya menimbulkan badai besar terhadap stabilitas yang sebelumnya mereka nikmati. Justru yang terlihat setelah itu adalah adegan move on dari ketiga kembar tanpa merasakan “karma” yang sebelumnya harus ditanggung Axena dan Havana. Memang, mungkin tidak mudah menerima kenyataan pahit seperti itu. Di akhir cerita pun sebenarnya telah diperlihatkan bagaimana tiga bersaudara tersebut tidak melupakan mereka yang sudah pergi. Tapi kenapa tidak digambarkan proses kontemplasi dan badai itu walaupun sedikit? Mengapa harus tergesa loncat ke babak dimana Bhara, Bhadra dan Bhajra akhirnya mampu menemukan kebahagiaan mereka masing-masing? Konsekuensi dari hal ini adalah keseluruhan cerita terkesan mengambang dan sort of going nowhere. Berbeda dengan Pintu Terlarang yang memang murni menawarkan ketegangan dan misteri dari awal hingga akhir, Kembar Keempat juga menyertakan unsur drama sehingga bagi saya penting sekali untuk mengetahui pekembangan karakter terutama setelah melalui titik didih konflik yang sudah dirancang si pengarang. Maka bagi saya buku ini ibarat balon gas yang sudah siap dilepas tinggi menuju langit namun terbentur dinding plafon kamar : Ekstase yang tidak kesampaian menuju langit.

  • Rina Suryakusuma
    2019-01-20 13:55

    Judulnya benar-benar bikin penasaranSaya nggak ngerti, apa arti kembar keempat sampai akhirnya tiba di endingSecara cerita, jauh lebih bikin trauma buku pintu terlarangTapi Kembar keempat pun juga lumayan bergemaCerita dibuka dengan kisah tiga anak kembar Bhara, Bhadra dan BhajraLalu cerita pindah ke satu orang gadis model yang bernama AxenaKemudian gadis lain yang bernama HavanaBaca cerita ini seperti baca tiga kisah yang berbedaTapi pada akhirnya, seperti pintu terlarang juga, cerita mulai menyatu dan diikuti dengan twist yang yah, begitulah :DPage turnerNovel ini habis dalam sekali duduk

  • ABO
    2019-01-23 08:01

    2.5/5Endingnya maksa, padahal di awal-awal buku ini bagus, hampir menggeser Pintu Terlarang ke urutan kedua buku favorit saya dari buku penulisnya yang pernah saya baca. Satu-satunya yang masih konsisten saya sukai dari awal hingga akhir adalah diksinya, jenis yang sudah sangat jarang ditemukan di buku-buku sekarang.

  • Vendy
    2019-02-03 06:17

    There's an expiry date for your secret. You will never know.

  • Fanda Kutubuku
    2019-01-30 14:12

    Bingung dengan kata-kata "aneh"nya. Ceritanya agak dipaksakan dengan bumbu mistis.

  • Priska
    2019-02-10 07:13

    Anggaplah belakangan ini saya memang lagi pelit ngasih rating :)). Saya sendiri tadinya berharap bisa ngasih tiga bintang ke buku ini, minimal untuk keindahan bahasanya. Apa daya ternyata usai baca saya malah kepikiran pertanyaan-pertanyaan yang bikin saya makin kurang sreg sama buku ini...Latar belakang Sekar Ayu Asmara yang bukan orang awam di dunia seni-budaya Indonesia sebetulnya menjanjikan karyanya bukan cuma menarik, tapi juga berbobot dan estetik. Dari buku ini, saya sebetulnya suka dengan ide ceritanya yang nggak mainstream dan bikin penasaran. Sejak baca Pintu Terlarang, ciri khas SAA tampaknya membangun cerita misteri dengan benang merah yang sebetulnya sederhana, tapi kok ya tetep nggak ketebak dari awal. Saya juga suka cara pengarang melukiskan dengan detail masing-masing karakternya yang berbeda budaya. Dapat info menarik sedikit-sedikit tentang budaya Turki, audisi dan pementasan Broadway, sampai gaya hidup seorang supermodel internasional di sini. Saya pun suka bagaimana pengarang membangun struktur ceritanya dengan rapi, hampir bisa dibilang simetris. Mungkin kurang realistis, tapi ya memang estetis #ngomongapasihini.Saya mau bahas tentang gaya penulisan. Di awal, gaya tulisannya terasa mengalir enak dibaca, lugas tapi tetap indah. Memang banyak bertabur kata-kata "ajaib", yang bikin saya beberapa kali bolak-balik ngecek aplikasi KBBI di HP buat tahu artinya. Di satu sisi ini menyenangkan, menambah perbendaharaan kata. Di sisi lain, kalaupun pace baca terganggu karena harus cek KBBI melulu, mengabaikannya saja pun nggak terlalu masalah. Masih bisa dikira-kira lah arti kata-kata ajaibnya. Justru kosakata nggak lazim ini yang bikin tulisan pengarang kian cantik.Buat saya problemnya justru kelugasan gaya bahasanya. Setelah separuh buku saya agak sadar, tampaknya pengarang ketat sekali mengikuti pola kalimat S-P-O-K (?). Hasilnya: 1) kalimatnya memang jadi mudah dipahami; 2) gaya bahasa ini, saat dipakai berlebihan, menimbulkan kesan "dingin" dan berjarak. Di novel Pintu Terlarang gaya ini memang cocok dengan genre psycho-thrillernya, justru menguatkan salah satu karakter yang punya gangguan mental. Di Kembar Keempat, awalnya bikin saya bertanya-tanya apakah buku ini juga bergenre sama? Sewaktu makin jelas buku ini lebih ke drama keluarga berbumbu percintaan, malah ada aura metropop terasa kental (dari unsur karakter-karakter yang rupawan, sukses dan gaya hidupnya juga high-class dan go-international), gaya bahasa begini jadi terasa salah tempat. Kurang "mengalun", kurang menjiwai.Keluhan kedua saya adalah tentang twist dan endingnya. Saya ngerasa, pesan yang mau disampaikan sebenarnya bagus, tapi pengarang memilih pendekatan lewat alur yang terlalu dramatis, sampai-sampai pesan itu jadi terkubur di bawah drama-drama yang dibangunnya. (view spoiler)[Yang saya tangkap, pesan utamanya adalah jangan memisahkan anak kembar. Secara moral dan etis, kurang lebih saya ngerti lah alasannya. Minimal anak berhak tahu asal-usul dirinya yang sebenarnya. Unsur mitos dan mistis yang dimasukkan pengarang, IMO, jadi terlalu mengaburkan rasionalitas pesannya.Saya juga keberatan kenapa para ibu dan anak dalam kandungannya harus mati semua? Memang, anak hasil inses itu harusnya nggak terjadi, tapi kalau dalam kasus seperti di buku ini, kan sudah terlanjur. Apa sebegitu nggak punya haknya mereka untuk lahir ke dunia? Kenapa pula cuma kembar perempuan yang harus ikut mati bersama si jabang bayi, setelah tahu ternyata selama ini mereka bercinta dengan saudara kembar lelakinya? Kembar laki-laki juga sama-sama syok pastinya, tapi kenapa mereka boleh terus hidup dan move on?? (hide spoiler)]Tampaknya buku ini lebih cocok dinikmati sebagai bacaan ringan. Nikmati misterinya dan sila terkaget-kaget dengan twistnya, tapi nggak usah terlalu mikirin kenapa-kenapanya. Nanti malah nggak puas kayak saya =))

  • Aya Murning
    2019-01-30 05:49

    3 stars. I liked it!dari judulnya saja, saya nggak pernah menyangka bahwa tabir misterinya seruwet itu. saya kira misterinya hanya sebatas pada judul itu saja. saya jadi berpikir sendiri mengapa harus ada Havana juga? sementara sudah Axena yg muncul/diceritakan duluan di cerita ini, yg langsung saya judge bahwa Axena lah si kembar keempat.oh... ternyata tidak demikian. saat mendekati ujung cerita, barulah bisa bilang "yaelah tebakan gue salah semua" hahaha. saya suka cerita yg seperti ini. cerita yg lumayan buat mikir, walo ga mikir2 amat sampe ke hal yg berat2 layaknya novel detektif.sebenarnya saya mau kasih 2,5 bintang. tapi karena option itu tidak ada, maka saya kasih 3 saja. 0,5 sebagai reward karena sudah membuat cerita yg tak terduga dan saya jadi salah nebak mulu! :psecara penulisan, untuk saya pribadi, ini membosankan. kenapa? saya tidak bisa membaca/menilai watak masing2 perannya tersebut bagaimana. hanya 10% dari keseluruhan cerita yg berisi dialog. selebihnya hanya deskripsi atau prolog atau apalah namanya itu. ya, terlalu banyak deskripsi. hanya di bab awal yg menjelaskan secara singkat bagaimana kepribadian si tokoh kembar tiga itu. namun ketika dibaca, tidak ada sama sekali hal yg menunjukkan bahwa masing2 kembar itu sifatnya begitu.(view spoiler)[tapi saya salut dengan sang penulis. beliau berani membeberkan tentang beragam keyakinan. bahkan berani sekali menyuguhkan cerita tentang Havana dan Merav yg akan menikah melintasi benua dengan adat dan kepercayaan yg ada di dunia ini. sempet tertulis, "hal ini bisa dianggap sebagai pelecehan agama." menurut saya pribadi, ya memang. ini ide cara menikah yg cukup gila. atau sangat gila. lol.pas di bagian tengah, waktu Bhara dan Bhadra merasa telah menemukan jodoh mereka masing2, itu terasa janggal, walo kebenarannya dalam cerita ini adalah karena faktor si pasangannya itu merupakan saudara kembarnya juga, oleh karena itu dalam waktu singkat mereka saling tertarik. btw, saya tidak tau apakah itu memang benar dalam kehidupan nyata. hanya saja secara logika, alangkah cepatnya bisa langsung jatuh cinta hanya dalam 1 hari dan 1x pertemuan. (hide spoiler)]

  • Just_denok
    2019-02-14 13:54

    Novel Kembar Keempat ini ada dalam paket LitBox yang saya beli, sepaket dengan Amba, dan Blue Romance. Novel ini membuat saya gila. Pengen garuk2 tembok setelah mengetahui segalanya. Jujur di tiga perempat halaman awal, saya sangat menikmati novel ini. Cerita cinta Axena-Merav, Havana-Yilmaz kemudian keterkaitan nya dengan Bhara, Bhadra dan Bhajra membuat saya berdecak kagum. Diwarnai dengan latar belakang New York, Paris, Istambul dan Bali, Sekar Ayu Asmara pandai sekali merangkai jalan cerita sehingga membuat saya berpikir ini adalah novel romance. Tapi ketika sudah menamatkan novel ini, saya baru ngeh kalau sebenarnya novel ini adalah novel misteri yang dibalut dengan baju romance. Cerita di novel ini nggak ketebak ending nya gimana. Ya sebenarnya wajar sih, melihat film Pintu Terlarang (yang sampai saat ini saya nggak ngerti maksudnya apa, karena film itu masih bikin saya bertanya2 tentang kesimpulan cerita), Sekar Ayu Asmara memang penulis yang ‘berbeda’. Banyak hal baru dan yang saya baca di novel ini. Pertama, bagaimana Merav ingin menikahi Axena dengan cara yang ‘berbeda’, lalu kepribadian eksentrik dari Havana, dan cara Bunda membesarkan Bhara, Bhadra dan Bhajra yang penuh dengan kesempurnaan. Yaaa..walaupun sedikit ‘berbeda’ dengan novel2 yang biasa saya baca, novel ini bisa membuat saya suka dan nyaman dengan ‘perbedaan nya’. Di halaman2 menjelang akhir dari novel ini, saya agak merinding bacanya, karena ada sedikit unsur mistis ;p. But, saya suka sih bagaimana ending ceritanya. Penyelesaian dari konflik di novel ini juga cukup bikin saya puas. Penjelasan mengenai Kembar Keempat juga jelas dan tidak menimbulkan pertanyaan. Saya suka goal akhir yang dibuat Sekar Ayu Asmara tentang hidup Bhara, Bhadra dan Bhajra. Well, membaca novel ini tidak membuat saya berpikir keras koq, cerita nya mengalir, sehingga saya bisa menikmatinya dengan mudah.

  • Victoria
    2019-01-17 13:07

    3.5 stars!Actually i want to give this novel by sekar ayu asmara 4 stars but i felt in the middle of the story the author made it went too fast for my taste. The love between axena and bhara or between havana and bhadra, i think it will be more romantic if the author explored it more. I know the theme is about separated twins that actually can't be separated or they wil get the karma: fall in love with each other, but i just don't like insta love. Their love felt wrong and forced. But for the plot and for the idea of the story i really liked it. made me spent all day to read it till the end. I also love the explanation about different places that told in this book. The author took me to explore New york, Manhattan, Paris, and Istanbul and made me feel they must be great places to choose for holiday. Bali? off course.^^ and the love story between axena and merav is so so sweet (tears). Merav's idea to marry in every god's sacred house is amazing, very unique. and for Havana.. she's interesting with her bald head and her crazy hobby/work: take photos of dead person and collect them. The main guy in this story seemed bhara, the others almost burried with main girls' story especially bhajra. and the idea to connect two girls' life with two guys' life.. it's just wow.. In fact, the theme in this novel is not only romance but also supernatural. ghosts.. (goosebumps)This novel is the only novel from sekar ayu asmara that i've ever read. I think if i found her book again in store i will buy them coz I am sure they will be as unique as this. NOTES: The author had made movies too based on her own story, she also's a composer and likes to paint. IN CONCLUSION.. She's a very talented author. I admire her.. (^^)

  • Mandewi
    2019-01-30 07:06

    Cerita oke. Tentang kembar terpisahkan.Tapi yang menarik perhatian justru gaya bercerita SAA. Kalimat-kalimat digunakan seefisien mungkin. Efisien, maksudnya terasa sekali penulis berusaha --kalau tidak bisa dibilang berusaha terlalu keras, memangkas habis kata-kata seperti 'dengan', 'yang', dan '-nya'.Perhatikan kalimat pertama dan kedua reviu ini. Apakah tidak lebih halus jika saya menulis, "Ceritanya oke. Tentang kembar yang terpisahkan."? Seperti kalimat pertama dan kedua itulah gaya tulisan SAA yang saya sebut efisien. :))Satu lagi, dalam novel ini banyak saya temukan kata-kata baru yang bahkan saya tidak tahu ada di KBBI. Misalnya: gelanting, renyai, merelas, rangkup, perenyuk, kayau.Kata-kata apa itu? :O Barangkali akan menjadi tidak masalah kalau kata-kata 'asing' seperti hanya ada satu atau dua dalam satu bab. Tetapi contoh kata-kata baru yang saya sebut tadi, semuanya ada dalam satu bab yang hanya terdiri dari enam halaman. :)Jadi, dengan besar hati, saya simpulkan bahwa novel ini lebih cocok ditujukan untuk penulis yang perlu menambah perbendaharaan kata *nunjuk diri sendiri*, dibandingkan untuk pembaca yang ingin menikmati kalimat demi kalimat tanpa mengerutkan kening.

  • Pratiwi Utaminingsih
    2019-02-11 10:11

    This book is a magic! Merinding bacanya dari awal sampe akhir. Jujur ini adalah novel pertama dari Sekar Ayu Asmara yg saya baca. Aura mistis di awal cerita langsung menarik perhatian saya begitu dalam dan terbukti, tidak sampai sehari saya mampu menamatkannya. Yang pertama saya tangkap adalah gaya penulisan Sekar Ayu Asmara yang hampir mirip dengan gaya Fira Basuki. Dimana banyak sekali detail tentang suatu tempat beserta budaya dan sejarahnya. Tipe buku favorit saya. Sambil refreshing juga jadi makin pinter, hehe. Hal kedua yg saya tangkap, novel ini langsung mengingatkan saya pada film yg disutradarai oleh Sekar yaitu Belahan Jiwa. Dimana tokoh-tokohnya menyimpan sisi misterius soal masa lalunya. Dan juga memiliki keunikan dalam pribadinya. Ending cerita di novel ini cukup mengejutkan, saya kira teka-teki ini cukuplah sampai pada terbukanya siapa kembar keempat sebenarnya. Tapi ternyata tidak. Bahkan ada beberapa twists yang mampu bikin sekujur badan merinding.Five stars for Kembar Keempat!

  • Hadiyanti Ainun
    2019-01-28 10:13

    plot twistnya bagus. soal kesempurnaan lahiriah dan jalan hidup yg terlalu mulus (karena disampaikannya memang dgn cara begitu) buat saya sih itu kekurangan penulisan yg nggak terlalu penting. semuanya punya jalan kehidupan dan menghadapi rintangan sampai ke akhir yang realistisnya susah dicapai, tapi bukan nggak mungkin. fragmen tersebut memang merupakan kekurangan, tapi nggak begitu berarti. yang penting ide ceritanya berhasil, dan buat saya maksud ceritanya sangat tersampaikan dan betul-betul menarik. maksud cerita tersebut bukan menyampaikan jalan hidup para tokoh yang penuh pencapaian, justru hal-hal sempurna tersebut kita akan menyayangkan ketika menemui akhir cerita yang bergulir ke arah sebaliknya. mendadak semuanya jadi tidak sempurna lagi. atau ternyata apa yang kita lihat tidak sesempurna yang kita harapkan. recommended banget, imperfection won't hurt unless you already had perfection

  • Sutresna
    2019-01-23 06:09

    Kenapa judulnya Kembar Keempat?!! Judulnya mengecoh sekali! hahahaBuat saya ceritanya rada ringan meski detil-detil ttg lokasi, fashion, dsbnya benar-benar lengkap.Yang paling asyik adalah isi tiap babnya tidak lebih dari 5 halaman, jadi gampang buat saya istirahat di sela-sela bab bila ingin menunda bacaan di tengah jalan.Tokohnya buanyak banget ya jadi bingung buat diafalin di awal2. Tapi saya suka nama Bhara, Bhadra, dan Bhajra yang kembar tiga itu.Pergantian cerita satu tokoh ke tokoh lain melompat-lompat, lumayan bikin keder kalo bacanya cepet-cepet. heheMelungkup, berselarak, menyelangkupi, menyelisir, merecik, adalah beberapa dari banyak kosakata yang mungkin hanya akan kalian temui di buku ini. Nyastra. Kalo ndak nyastra, mungkin saya ndak akan tertarik pada buku ini.Selanjutnya mau baca yang Doa Ibu, tapi belum dapet2 bukunya.

  • Dini Murti
    2019-02-07 10:02

    Sekar Ayu Asmara terlihat berpengetahuan luas dalam memasukkan informasi-informasi ke dalam buku ini. Saya acungi jempol untuk itu. Pemilihan kata yang digunakan juga mudah dicerna, sehingga enak untuk dibaca. Cerita dari babak ke babak dibuat disambungkan dari kata/ kalimat di bab sebelumnya, dan berdasarkan perspektif dari masing-masing tokoh, sehingga pembaca dibuat terkecoh dan penasaran sampai akhir cerita. Dan saya pun akhirnya baru tahu cerita sebenarnya di saat-saat terakhir. Kenapa saya kasih 3 bintang, dan tidak 4, atau bahkan 5, konflik yang terjadi kurang kompleks dan sensasi jantung berdebar yang saya dapatkan kurang kuat (meski bukan cerita laga). Dan sentuhan ajaib pada ceritanya kurang masuk ke saya. Tetapi secara keseluruhan, bacaan ini layak untuk saya rekomendasikan ke teman-teman yang lainnya. Cheers :).

  • Claudia Von Nasution
    2019-02-15 06:53

    Dari awal udah nebak-nebak, apa nih maksud dari judulnya. Siapa sih kempar keempat itu. And it was amazing ternyata ceritanya....begitu. Kaget, sekaget-kagetnya. Gue jadi mulai meragukan kemampuan gue yang suka sotoy nebak-nebak cerita :PTwo thumbs up! Alur yang gak ketebak itu merupakan daya tarik dan keunggulan buku ini. Bisa bikin sedih juga loh. Gue sampai nangis pas orang-orang itu pada meninggal (bukan spoiler ya kan ada di prolog). Cuma ya gong nangisnya pas udah tau kenapa mereka bunuh diri itu.Takdir ya boo. Adil gak adil. Suka gak suka. Harus kita terima. Sedih! Kenapa? Karena orang-ornag itu jadi korban karena kesalahan orang lain; let's say orang tua mereka. Gue jadi mikir yang enggak-enggak deh. Sok-sok mengaitkan sama diri gue sendiri. Apakah hidup gue sekarang begini hasil tabungan orang tua gue? Takdir? Huaa. Mikir deh malam-malam gini.

  • Zachira Indah
    2019-01-22 06:01

    Membaca novel Sekar Ayu Asmara artinya saya harus disiapkan dengan peristiwa-peristiwa / hal-hal di luar nalar yang biasanya bertebaran seperti novel Sekar yang saya baca sebelumnya (Doa Ibu). Dan memang banyak sih, meskipun maksudnya sudah disiapkan sebagai twist.Secara keseluruhan, agaknya saya sulit menikmati cara bercerita. Pilihan diksinya mungkin buat sebagian orang bagus dan puitis, tapi buat saya berlebihan. Dan dialognya datar. Entahlah rasanya kok beda jauh sama novel Sekar yang lain. Tapi saya tetap kasih bintang 3 karena penjabaran detail settingnya dan ide cerita anak kembar itu. Twistnya udah ketebak sih, tapi juga bukan hal yang nggak saya sukai. Intinya masih kategori lumayanlah.

  • Dina Oktaviani
    2019-01-17 14:03

    the book is simply attractive :) gaya bahasanya unik, walaupun kayaknya bukan selera saya. awalnya sih bingung poin ceritanya mengarah ke mana, sampe suatu titik, semuanya jadi kebaca. keliatan bahwa penulisnya, Sekar Ayu Asmara, adalah orang yang cerdas, dan hal tersebut terlihat dari tokoh-tokoh rekaan dalam buku ini. segala macam detil mengenai kesenian dan kebudayaan Amerika, Turki, Indonesia, dan Mesir dipamerkan dalam buku ini. cuma yah, namanya juga buku fiksi, tiba-tiba ada selipan juga unsur mistis dalam buku ini, dan dibilangnya, "Rahasia dan kehendak Tuhan."but afterall, well done :D

  • Hendra Lavith
    2019-01-21 09:52

    Kelebihan dari buku ini adalah penulis memiliki pengetahuan yang sangat luas, terutama mengenai kesenian. Penulis mampu menjelaskan secara detail seluk beluk suatu kesenian yang berasal dari berbagai belahan dunia. Bukti lain bahwa penulis memiliki pengetahuan yang luas adalah pembendaharaan kata yang sangat banyak, dan tak jarang saya tak mengerti arti sebuah kata.Gaya bahasa yang digunakan bukan favorit saya,juga alur cerita yang terkadang membuat saya berpikir bahwa hal itu terlalu dipaksakan. Namun, saya tetap menikmatinya.

  • Halida Hanun
    2019-02-05 11:15

    3,5 stars.sempat kecele dengan sosok kembar keempat. tebakan saya salah ternyata. tapi secara garis besar sih saya udah bisa nembak ceritanya seperti apa. kalau dibandingkan pintu terlarang, jelas buku ini tidak semisterius PT. tapi masih cukup enak dinikmati kok. sayang akhirnya kurang nendang. daaaaan saya sih kasian ya sama Bhajra. sudahlah dia muncul di sepertiga terakhir. eh, giliran kakak-kakaknya dapat pengganti Axena dan Havana, dia masih tetep nggak punya pasangan. ( ._.)/|bhajra|

  • Palinda
    2019-01-31 10:57

    Menurut saya novel ini bagus karena penulis bisa menuangkan imajinasinya dengan baik dan kebetulan saya memang suka cerita imajinasi yang kurang realistis hahaha. Membaca novel ini saya mendapat pengetahuan dari aspek sejarah dan budaya, contohnya tentang Kota Istanbul dan sejarahnya. Berasa baca cerita traveller juga soalnya setting tempat di novel ini banyak, contohnya Paris dan New York. Penulis juga memberikan gambaran tentang upacara Pelebon.

  • Siska Hasmawaty
    2019-01-27 08:11

    Novel ini menceritakan tentang liku kehidupan 3 orang saudara kembar laki-laki dan 2 orang perempuan. Mereka tumbuh dalam latar belakang yag berbeda, di tempat yang berbeda.Empat diantara mereka bertemu dan jatuh cinta. Tiga diantara mereka merasa telah bertemu dengan pasangan sejiwa. Dua diantara mereka dihantui bayangan masa lalu. Tiga diantara mereka patah hati. Tiga diantara mereka dituntun hantu masa lalu. Dua diantara mereka bersatu dalam keabadian.

  • Anna Gultom
    2019-01-21 07:56

    Well, dari awal ke pertengahan aku suka. Dengan bahasa yang nyastra semakin membuat ga pengen berhenti untuk baca. Tapi begitu masuk bagian pertengahan (dmn kembar cowo akhirnya "dipertemukan" dengan kembar cewe secara "kebetulan") mulai agak jenuh karena terkesan "maksa". Overall, I gave 3 stars for this novel. IMHO...

  • Titish A.K.
    2019-01-29 07:58

    Saya bukan penggemar novel misteri yg teka-tekinya dipecahkan dg cara: (1) Suruh satu orang yg tahu misterinya untuk cerita semuanya di akhir cerita, atau (2) Kirim hantu untuk memberi petunjuk jawaban atas semua teka-teki. Menurut saya cara2 begini adalah cara pengungkapan misteri yg malas & kok ya novel ini pake DUA CARA ITU SEKALIGUS. Duh!

  • Aulia Hazuki
    2019-01-30 12:51

    Baca novel ini udah lama. Tapi baru sempat nulis review di GR sekarang, hehe. Novel ini adalah salah satu novel favorit. Nuansa misteri dibangun dengan apik dari awal hingga akhir, dan klimaksnya pun tak main-main, membuat saya terkaget-kaget dan berkata "Ya ampun! Jadi ..." (Stop di sini, takut spoiler :D)Lovable book, for those who love mystery^^

  • Tantri Setyorini
    2019-01-28 10:10

    Pertama kalinya baca Sekar Ayu Asmara nih. Sutradara dan penulis skenario film Indo kesukaanku, Belahan Jiwa (Pintu Terlarang juga sih, tapi belum nonton). Romance-nya agak menye-menye sih. Tapi seperti biasa Sekar Ayu Asmara sukses menipu saya dengan ending yang tidak terduga. Daripada baca metropop, novel ini menurutku jauh lebih seru sih.

  • Ristia Vinny
    2019-01-31 09:56

    buku pertama Sekar Ayu Asmara yang aku baca. puitis dan misterius. aku suka cara penulis bercerita, dan mengungkap fakta secara diam-diam, seperti saat kita sedang mengumpulkan dan membentuk sebuah puzzle yang utuh. dan setiba di ending, aku puas.

  • Nuning Indani
    2019-01-18 10:05

    awalnya, biasa saja. terlihat agak menarik karena pada sebagian perpindahan bab, kalimat terakhirnya sama dengan kalimat pertama bab berikutnya. tapi hebatnya, buku ini justru memberi kesan sangat dalam di akhir cerita.

  • Mel
    2019-02-06 09:52

    alamak... endingnya gitu banget. udah kuduga bakal begitu tapi nggak perlu 'sebanyak' itu juga. dengan cerita nyaris sama, dorama gelap Sora Kara Furu Ichioku no Hoshi lebih berhasil nyayat-nyayat hati. nonton endingnya pun kudu sedia kleenex sewadah.